Senin, 03 Juni 2013

copas seniman dari lampung Ari PH

"Tuhan, coba sekali-sekali, kau atur agar masa depan yg sibuk mikirin aku,
bukan aku yg mikirin dia.

Aku mau rileks aja, Tuhan. Kalau dipikirin terus, nanti si masa depan
jadi sombong, besar kepala, merasa dibutuhin, merasa perlu disamperin
dgn pendekatan khusus, dengan kalkulasi khusus--

karena dia lah aku jd ngotot, ingin memasti-mastikan segala sesuatu.
Terhadap kawan aja, aku jd males senyum
Takut masa depanku kabur, diserobot kawan

Aku salat, tapi yg ada di kepala dan hatiku cuma rencana2ku
untuk mendekatinya, bukan Kamu. Aku berdoa, cuma untuk
menyampaikan kegelisahanku, kekhawatiranku,
dan bukan menyanyikan suka-cita untuk-MU.
Kubilang aku mencintaiMu, padahal, sungguh Tuhan, aku sungguh-sungguh
hanya mencintai diriku sendiri.

Aku jd heran sendiri, Kok niatnya mau bahagia, aku jd gak bahagia?

Berhadapan dgn masa depan, Tuhan, aku jd salah tingkah!

kalau sekali-kali aku salah, kan boleh aja dong!
kalau sekali-kali aku terlihat bodoh, kan boleh dong!
kalau tiba-tiba aku kalah, nggak bisa nentuin pilihan, nggak pasti,
kan boleh aja dong?
masak aku harus terlihat pintar terus? Menang terus? Pasti terus?

Jadi, tolonglah, Tuhan, Dikaulah yg menciptakan mahluk yg maha abstrak
dan nggak pasti itu,
Bilang padanya--gua nggak takut!"

*
Ini munajat yg dianjurkan Syekh Mukhlisin untuk kubaca banyak2 kalau hatiku lagi galau mikirin Darin..., eh nobel sastra.


(isinya terlalu cocok dengan kegalauan hatiku..)  :P