Sejak kecil, tepatnya lupa berawal dari mana dan kapan mulainya, tiba-tiba saja saya terseret dalam pusaran arus persaingan hidup. Bersaing (lembut diluar-ganas didalam) untuk berebut selalu menjadi yang terbaik. Juara kelas saat di sekolah, anak kebanggaan saat di rumah. Dan, saya bisa. Menjadi straight A student hingga lulus sekolah dan tentu saja membanggakan kedua orang tua.
Dan, gawatnya saya menikmati gaya hidup ini *pengakuan* gaya hidup yang rentan penyakit kronis dari hipertensi, jantung hingga kanker jika tidak dikendalikan dengan tepat upset emotikon
Saya pikir cara menjalani hidup -bersaing dan menjadi pemenang- akan berakhir begitu saya lepas dari status menjadi murid.
Ternyata oh ternyata... kondisi ini bisa datang dengan gelombang yang begitu parah ketika menjadi ibu! Apalagi ibu jaman sekarang isu persaingannya banyak sekali:
Ibu di rumah vs ibu bekerja
Melahirkan normal vs sesar
ASI vs sufor
MPASI rumahan vs instan
Makan organik vs anorganik
Single fighter vs pakai jasa ART
Sekolahin anak vs home schooling
Bahan alami vs kimia (padahal semua yaa bahan kimia! :p)
Banyaaaak lagi! Untuk sebuah rasa "menjadi ibu".
Oiya, tambahan juga: gawatnya lagi sekarang juga ada gaya hidup kudu eksis di dunia maya! Twitter, facebook, path, instagram, blog, friendster, watsapp, line, ......
Ditambah standard abadi menjadi ibu itu:
Bangun paling pagi dan tidur paling malam ketika memastikan semua sudah tidur dengan nyaman.
Rumah selalu bersih dan rapih.
Anak-anak sehat, berkembang baik dan selalu sedap dipandang.
Memasak masakannya lezat bergizi seimbang setiap hari, camilan sehat dan khusus anak ditata menjadi bento yang imut lucu menawan hati.
Rambut tersisir rapi dengan badan yang harum mewangi.
Rajin membuat prakarya yang elok menghias rumah.
Suaminya selalu bangga bercerita tentang istri kebanggaan dimana-mana: kantor, temen nongkrong hingga social media.
Keluarga senantiasa tersenyum seperti foto-foto keluarga (tampak) bahagia yang terpajang di ruang tamu.
Kehadirannya selalu dinanti di komunitas.
Menjadi rujukan saat ada orang kesulitan.
Benar-benar ibu sempurna, ibu juara, ibu super!
Sebagai ibu tentu dong saya ingin jadi ibu yang dianggap sukses. Ibu yang berhasil mengurus anak hingga anaknya tidak hanya sehat tapi juga senantiasa bersikap manis, bersih, wangi dan sedap dipandang. Sebagai istri saya ingin bisa mengurus suami sebaik-baiknya, mengurus rumah senantiasa terlihat apik, menangani urusan rumah tangga dari cuci setrika, bayar cicilan, listrik hingga sampah juga mengatur investasi jangka panjang. Sebagai makhluk sosial tentu saya berharap bisa eksis bermanfaat di masyarakat, baik di kompleks perumahan maupun tingkat negara bila perlu.
Dan, karena saya sudah bekerja keras sekolah lebih dari 20 tahun dan berakhir dengan indah menyandang profesi yang telah saya cita-citakan sejak bayi maka sangat wajar dong jika saya berharap sukses bekerja bisa melayani klien hingga puas. Tentu saja saya juga berharap bisa memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk menikmati hidup dengan menekuni hobi, mengembangkan bisnis sosial, perawatan di salon atau sekedar menghirup secangkir kopi yang nikmat.
Semua cita-cita, passion dan harapan untuk sempurna setinggi langit di atas harus menjejak bumi. Saya akhirnya menjalani multi-profesi dengan menjadi ibu tanpa asisten rumah tangga, istri siaga, dokter yang ke rumah sakit setiap hari, bantu bisnis keluarga, nulis di web pribadi, ikut komunitas keren yang sesuai passion.
Tiap kali ada orang yang minta tolong tanpa ragu akan saya jawab "iya"
Super mom
Super wife
Super woman
.
.
.
Super tired!
Saya seharusnya bahagia dengan pencapaian di atas, ahahaa... tapi pada suatu titik harus diakui ternyata saya capek. Kerjaan saya -bisa dikatakan- memang tercapai, tapi -menurut saya- kurang beres. Jauh dari standard... TT.TT
Terjebak dalam sindrom (ingin) jadi ibu super.
Apa yang sebenarnya saya kejar?
Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Apa cara untuk menjalani hidup menjadi seorang ibu?
Mama selalu memberi nasehat untuk realistis, realistis, realistis.
Pada kenyataannya kita bisa sakit, anak akan ingusan, anak tantrum, atau suami bisa lembur mendadak. Rumah tidak bisa dipertahankan rapih dan bersih sepanjang waktu. Cucian kotor akan datang kembali. Jalanan bisa macet hingga jadwal kegiatan berantakan. Dst.
Jeratan jebakan ingin semua berjalan sempurna ini harus diurai. Diri ini harus dibebaskan kembali menghadapi kenyataan yang memang terjadi. Yaaa, kondisi ini jika dipaksakan tentu bisa membuat depresi, atau bahkan mungkin psikosis. Bisa saja anak dan suami ikutan juga jadi korban. Naudzubillahi min dzalik.
Menjadi ibu itu bukan lah sebuah perlombaan.
Juga tidak ada sosok rival untuk dikalahkan.
Ibu yang sempurna dan sukses memiliki definisi yang luas. Jangan membebani diri diluar dari jangkauan. Segera cari jendela emosi (katarsis kalau kata teman saya :D) ketika merasa mau meledak.
Daripada memaksa diri menjadi super, bagi saya saat ini jauh lebih nyaman ketika:
1. Bersyukur
2. Hidup seimbang dan jaga kesehatan
3. Menentukan skala prioritas yang realistis
4. Tersenyum menikmati hidup
5. Tau dimana mencari rujukan yang praktis dan benar.
6. Seperti saat ini: meregenerasi motivasi diri tiap kali hilang arah tujuan.
Rasa syukur akan mendatangkan energi tanpa batas untuk tetap melangkah tegak menjalani hidup dan mendatangkan lebih banyak nikmat dalam hidup. Jadwal kegiatan yang padat harus diatur dengan baik. Realistis itu penting. Atur kembali standard yang ingin dicapai.
Makan, minum dan istirahat yang baik. Diet yang salah itu berbahaya, yaa kita bisa baca penggalan kata "die" dalam "diet" kalau kata Umm Hamzah *gakbisa biru* Kurang karbo, air putih dan tidur bisa membuat tantrum. Olahraga, meski sekedar memilih jalan naik tangga ke lantai 4, ternyata membawa perbedaan.
Kenali rujukan2 praktis dengan ilmu yang akurat benar-benar mempermudah hidup saya! Anda tidak perlu jenius untuk bisa pintar.
Kenali motivasi hidup. Libatkan Allah supaya ikhlas menjalani rutinitas hidup yang membosankan. Ini adalah hal yang penting bagi saya, terutama ketika menyadari bahwa di belahan dunia lain ada yang sedang berjuang menjadi Ph.D mama dan saya masih setia berkutat dengan setumpuk cucian kotor.
Nikmati hidup! Menikmati bermain berantakan bersama anak, ngobrol mesra sambil beresin cucian bersama suami, menyapa tetangga, bercakap dengan banyak orang dan diskusi seru sambil ngeteh dengan teman...
Bahagia itu sederhana.
Kultur tekanan sosial menjadi orang tua super ini berbahaya bagi kesehatan. Tekanan menjadi orang tua super pasca kelahiran anak bisa mencapai titik yang membahayakan kesehatan mental hingga menghadirkan depresi post partum, anxietas, gangguan bipolar bahkan hingga tahapan psikosis. Baik pada ibu maupun ayah.
Tekanan menjadi supermom sendiri bisa menghadirkan super stres pada fisik, mental dan emosional ketika mengharapkan segalanya sempurna. Jiwa raga kita tidak mampu untuk menanggung tekanan besar dalam waktu yang lama sehingga rentan ambruk. Tubuh menjadi lemah dan mudah sakit. Pada berbagai tingkatan bisa menimbulkan gangguan pencernaan, hormon, libido, gangguan tidur dan berbagai gangguan baik di dalam maupun luar tubuh.
Tentu saja kita harus menjadi ibu yang baik dan bertanggung jawab. Tidak perlu kekuatan super untuk menjadi ibu yang baik. Semua ibu yang baik adalah supermom.
Tidak perlu bersaing untuk menjadi lebih-ibu dari ibu yang lain.
Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi ibu yang baik. Kita semua yang telah bekerja keras menjadi ibu yang baik adalah ibu terbaik bagi anak-anak, istri terbaik bagi suami dan teman terbaik bagi lingkungan.
I am not a supermom, I am the real mom.
sumber : seseorang bijak di seseakun dumay
Ternyata oh ternyata... kondisi ini bisa datang dengan gelombang yang begitu parah ketika menjadi ibu! Apalagi ibu jaman sekarang isu persaingannya banyak sekali:
Ibu di rumah vs ibu bekerja
Melahirkan normal vs sesar
ASI vs sufor
MPASI rumahan vs instan
Makan organik vs anorganik
Single fighter vs pakai jasa ART
Sekolahin anak vs home schooling
Bahan alami vs kimia (padahal semua yaa bahan kimia! :p)
Banyaaaak lagi! Untuk sebuah rasa "menjadi ibu".
Oiya, tambahan juga: gawatnya lagi sekarang juga ada gaya hidup kudu eksis di dunia maya! Twitter, facebook, path, instagram, blog, friendster, watsapp, line, ......
Ditambah standard abadi menjadi ibu itu:
Bangun paling pagi dan tidur paling malam ketika memastikan semua sudah tidur dengan nyaman.
Rumah selalu bersih dan rapih.
Anak-anak sehat, berkembang baik dan selalu sedap dipandang.
Memasak masakannya lezat bergizi seimbang setiap hari, camilan sehat dan khusus anak ditata menjadi bento yang imut lucu menawan hati.
Rambut tersisir rapi dengan badan yang harum mewangi.
Rajin membuat prakarya yang elok menghias rumah.
Suaminya selalu bangga bercerita tentang istri kebanggaan dimana-mana: kantor, temen nongkrong hingga social media.
Keluarga senantiasa tersenyum seperti foto-foto keluarga (tampak) bahagia yang terpajang di ruang tamu.
Kehadirannya selalu dinanti di komunitas.
Menjadi rujukan saat ada orang kesulitan.
Benar-benar ibu sempurna, ibu juara, ibu super!
Sebagai ibu tentu dong saya ingin jadi ibu yang dianggap sukses. Ibu yang berhasil mengurus anak hingga anaknya tidak hanya sehat tapi juga senantiasa bersikap manis, bersih, wangi dan sedap dipandang. Sebagai istri saya ingin bisa mengurus suami sebaik-baiknya, mengurus rumah senantiasa terlihat apik, menangani urusan rumah tangga dari cuci setrika, bayar cicilan, listrik hingga sampah juga mengatur investasi jangka panjang. Sebagai makhluk sosial tentu saya berharap bisa eksis bermanfaat di masyarakat, baik di kompleks perumahan maupun tingkat negara bila perlu.
Dan, karena saya sudah bekerja keras sekolah lebih dari 20 tahun dan berakhir dengan indah menyandang profesi yang telah saya cita-citakan sejak bayi maka sangat wajar dong jika saya berharap sukses bekerja bisa melayani klien hingga puas. Tentu saja saya juga berharap bisa memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk menikmati hidup dengan menekuni hobi, mengembangkan bisnis sosial, perawatan di salon atau sekedar menghirup secangkir kopi yang nikmat.
Semua cita-cita, passion dan harapan untuk sempurna setinggi langit di atas harus menjejak bumi. Saya akhirnya menjalani multi-profesi dengan menjadi ibu tanpa asisten rumah tangga, istri siaga, dokter yang ke rumah sakit setiap hari, bantu bisnis keluarga, nulis di web pribadi, ikut komunitas keren yang sesuai passion.
Tiap kali ada orang yang minta tolong tanpa ragu akan saya jawab "iya"
Super mom
Super wife
Super woman
.
.
.
Super tired!
Saya seharusnya bahagia dengan pencapaian di atas, ahahaa... tapi pada suatu titik harus diakui ternyata saya capek. Kerjaan saya -bisa dikatakan- memang tercapai, tapi -menurut saya- kurang beres. Jauh dari standard... TT.TT
Terjebak dalam sindrom (ingin) jadi ibu super.
Apa yang sebenarnya saya kejar?
Apa yang sebenarnya saya inginkan?
Apa cara untuk menjalani hidup menjadi seorang ibu?
Mama selalu memberi nasehat untuk realistis, realistis, realistis.
Pada kenyataannya kita bisa sakit, anak akan ingusan, anak tantrum, atau suami bisa lembur mendadak. Rumah tidak bisa dipertahankan rapih dan bersih sepanjang waktu. Cucian kotor akan datang kembali. Jalanan bisa macet hingga jadwal kegiatan berantakan. Dst.
Jeratan jebakan ingin semua berjalan sempurna ini harus diurai. Diri ini harus dibebaskan kembali menghadapi kenyataan yang memang terjadi. Yaaa, kondisi ini jika dipaksakan tentu bisa membuat depresi, atau bahkan mungkin psikosis. Bisa saja anak dan suami ikutan juga jadi korban. Naudzubillahi min dzalik.
Menjadi ibu itu bukan lah sebuah perlombaan.
Juga tidak ada sosok rival untuk dikalahkan.
Ibu yang sempurna dan sukses memiliki definisi yang luas. Jangan membebani diri diluar dari jangkauan. Segera cari jendela emosi (katarsis kalau kata teman saya :D) ketika merasa mau meledak.
Daripada memaksa diri menjadi super, bagi saya saat ini jauh lebih nyaman ketika:
1. Bersyukur
2. Hidup seimbang dan jaga kesehatan
3. Menentukan skala prioritas yang realistis
4. Tersenyum menikmati hidup
5. Tau dimana mencari rujukan yang praktis dan benar.
6. Seperti saat ini: meregenerasi motivasi diri tiap kali hilang arah tujuan.
Rasa syukur akan mendatangkan energi tanpa batas untuk tetap melangkah tegak menjalani hidup dan mendatangkan lebih banyak nikmat dalam hidup. Jadwal kegiatan yang padat harus diatur dengan baik. Realistis itu penting. Atur kembali standard yang ingin dicapai.
Makan, minum dan istirahat yang baik. Diet yang salah itu berbahaya, yaa kita bisa baca penggalan kata "die" dalam "diet" kalau kata Umm Hamzah *gakbisa biru* Kurang karbo, air putih dan tidur bisa membuat tantrum. Olahraga, meski sekedar memilih jalan naik tangga ke lantai 4, ternyata membawa perbedaan.
Kenali rujukan2 praktis dengan ilmu yang akurat benar-benar mempermudah hidup saya! Anda tidak perlu jenius untuk bisa pintar.
Kenali motivasi hidup. Libatkan Allah supaya ikhlas menjalani rutinitas hidup yang membosankan. Ini adalah hal yang penting bagi saya, terutama ketika menyadari bahwa di belahan dunia lain ada yang sedang berjuang menjadi Ph.D mama dan saya masih setia berkutat dengan setumpuk cucian kotor.
Nikmati hidup! Menikmati bermain berantakan bersama anak, ngobrol mesra sambil beresin cucian bersama suami, menyapa tetangga, bercakap dengan banyak orang dan diskusi seru sambil ngeteh dengan teman...
Bahagia itu sederhana.
Kultur tekanan sosial menjadi orang tua super ini berbahaya bagi kesehatan. Tekanan menjadi orang tua super pasca kelahiran anak bisa mencapai titik yang membahayakan kesehatan mental hingga menghadirkan depresi post partum, anxietas, gangguan bipolar bahkan hingga tahapan psikosis. Baik pada ibu maupun ayah.
Tekanan menjadi supermom sendiri bisa menghadirkan super stres pada fisik, mental dan emosional ketika mengharapkan segalanya sempurna. Jiwa raga kita tidak mampu untuk menanggung tekanan besar dalam waktu yang lama sehingga rentan ambruk. Tubuh menjadi lemah dan mudah sakit. Pada berbagai tingkatan bisa menimbulkan gangguan pencernaan, hormon, libido, gangguan tidur dan berbagai gangguan baik di dalam maupun luar tubuh.
Tentu saja kita harus menjadi ibu yang baik dan bertanggung jawab. Tidak perlu kekuatan super untuk menjadi ibu yang baik. Semua ibu yang baik adalah supermom.
Tidak perlu bersaing untuk menjadi lebih-ibu dari ibu yang lain.
Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi ibu yang baik. Kita semua yang telah bekerja keras menjadi ibu yang baik adalah ibu terbaik bagi anak-anak, istri terbaik bagi suami dan teman terbaik bagi lingkungan.
I am not a supermom, I am the real mom.
sumber : seseorang bijak di seseakun dumay